Setiap pagi, semerbak kopi panggang selalu menyambut kedatangan Pak Dullah. Warung kopi kecilnya di Pasar Barabai bukan sekadar tempat berdagang, tetapi juga ruang bicara para seniman dan sastrawan Hulu Sungai Tengah.
Di sudut warung itulah lahir gagasan mendirikan komunitas sastra, hingga akhirnya para pemuda mulai menulis puisi tentang Batang Alai dan pegunungan Meratus yang menjaga kampung mereka.